Dewasa ini hidup semakin serius, yang awalnya hanya terpikir untuk bermain, makan, mandi, dan tidur. Siklus begitu yang terus-menerus terulang saat waktu kecil. Dengan bertambahnya umur, dengan menjadi dewasa. Beban yang dipikul semakin bertambah, semakin banyak berpikir tentang kehidupan, masa depan, karir, dan jodoh untuk kedepannya. Semua beban-beban yang dipikul tersebut kadang membuat cemas, khawatir, dan kecewa yang kemudian membuat depresi. Dalam menghadapi itu semua kita membutuhkan panduan dalam menjalani kehidupan. Kita harus mengembangkan mental yang tangguh dan sikap yang tenang dalam menjalani hidup. Maka artikel ini akan membagikan cara menjalani hidup ala stoisisme atau biasanya disebut filosofi teras. Sebenarnya stoisisme sudah dijelaskan dan ada bukunya. Buku tersebut ditulis oleh Henry Manampiring dengan judul Filosofi Teras. Juga artikel ini terinspirasi dari buku tersebut. Karena saya sebagai penulis juga sudah membaca buku tersebut dan saya merekomendasikan buku tersebut untuk dibaca. Tetapi artikel ini tidak akan membahas tentang buku tersebut, disini akan dibahas singkat mengenai apa itu stoisisme dan beberapa poin penting dalam stoisisme yang dapat kita terapkan dalam menjalani hidup.
Apa itu Stoisisme?
Stoisisme adalah filosofi yang didasarkan pada ide bahwa tujuan hidup adalah hidup selaras dengan alam. Alam tersebut didefinisikan sebagai keseluruhan kosmos, termasuk kita sesama manusia. Stoisisme didirikan oleh Zeno dari Citium di Athena, Yunani. Stoisisme telah diterapkan oleh raja, presiden, seniman, penulis, dan pengusaha. Marcus Aurelius, Frederick the Great, Montaigne, George Washington, Thomas Jefferson, Adam Smith, John Stuart Mill, Theodore Roosevelt, Jenderal James Mattis adalah beberapa nama tokoh yang menerapkan stoisisme.
 |
| Zeno dari Citium |
Orang yang memiliki hidup yang dikatakan sempurna dalam stoisisme adalah orang yang tidak mengalami emosi-emosi negatif yang merusak kebahagiaan, misalnya marah berlebihan, sedih berlebihan, cemas berlebihan,dll. Seseorang dapat mencapai kebahagiaan jika sudah tidak terpengaruh oleh hal-hal yang ada di luar diri seperti masa lalu, pandangan orang lain tentang kita, dll. Hal-hal yang ada di luar diri kita adalah hal yang tidak bisa kita kontrol. Kita seharusnya fokus pada hal-hal yang ada dalam diri kita yaitu pikiran kita. Dalam mengalami suatu kejadian pada persoalan hidup, pikiran kita lah yang menentukan apakah itu kejadian baik atau kejadian buruk. Ketika kita mengalami suatu kejadian yang bisa dibilang itu adalah kejadian buruk, kita juga dapat menganggap bahwa kejadian itu ada di luar diri kita, kejadian itu tidak dalam kendali kita. Misalnya saja ketika kita ulangan, pada hari sebelumnya kita sudah belajar dengan giat dan yakin bahwa kita akan mendapat nilai yang baik, tetapi pada akhirnya kita mendapat nilai yang buruk. Dalam kejadian tersebut kita dapat berpikir mungkin dalam belajar untuk ulangan tersebut kadang kita kedistrak untuk bermain hp, membuka media sosial, membaca chat dari ayang, dan akhirnya kita tidak jadi belajar. Atau mungkin kita dapat berpikir kalau dalam belajar itu materi yang kita pelajari ternyata tidak keluar di ulangan. Tetapi bukannya kita malah pasrah dan mewajarkan dengan pikiran tersebut, tapi kita harus fokus berbenah lagi dalam mempelajari materi untuk ulangan. Mungkin kejadian itu tadi adalah ujian bagi kesabaran dan ketekunan untuk meraih kesuksesan dan kita harus bisa bersemangat lagi. Maka dari itu, disini stoisisme akan membantu mengendalikan emosi-emosi negatif dan berfokus pada hal-hal yang ada di dalam diri kita atau yang ada dalam kendali kita. Dengan stoisisme, kita dapat menghadapi persoalan hidup dengan mental yang tangguh dan kuat.
Bagaimana Menjalani Hidup dengan Stoisisme?
Dalam menjalani hidup dengan stoisisme, ada beberapa poin penting yang akan dijelaskan di bawah ini. Poin-poin penting tersebut adalah :
1. Hidup Selaras dengan Alam
Dalam menjalani hidup, kita sebagai manusia harus menggunakan nalar dan akal sehat kita. Hal tersebut yang membedakan dengan hewan. Kita harus menggunakan nalar dan akal sehat yang berarti kita mengendalikan hawa nafsu dan emosi. Misalnya saja ada teman kita yang menggibah di grup wa dan teman kita itu membuat perkataan yang jelek tentang kita, memanas manasi kita, dan bawaanya kita pun langsung emosi. Hal tersebut hanya membuat kita mengeluarkan tenaga untuk emosi dan membuat capek, akhirnya kita badmood. Dari kejadian itu, kita sedang tidak menggunakan nalar dan akal sehat kita sebagai manusia, kita hanya mengikuti hawa dan nafsu. Hidup selaras dengan alam, tidak mengajarkan kita untuk pasrah tetapi kita harus bisa menerima keadaan tersebut dengan lapang dada, hal tersebut yang membuat hati kita jadi lebih lega.
Semua keadaan dan kejadian yang terjadi di kehidupan merupakan suatu keterkaitan. Rangkaian kejadian yang terjadi di masa lalu dan masa kini merupakan kejadian yang berkelanjutan. Kejadian-kejadian tersebut terjadi dari banyak proses yang saling terhubung. Suatu kejadian yang terjadi pasti ada alasannya. Misalnya saja ketika kita naik motor dan kemudian ban motor kita terkena paku, akhirnya motor tersebut didorong sembari kita mencari tambal ban. Kejadian tersebut bukan kebetulan terjadi, mungkin sebelumya ada bapak-bapak yang habis dari toko bangunan membeli paku, tetapi 1 paku tersebut jatuh. Kemudian ban motor kita yang mengenai paku tersebut. Keterkaitan kejadian tadi membuat kita sadar bahwa melawan, mengeluh, mengingkari kejadian yang terjadi dalam hidup adalah hal yang sia-sia. Jadi untuk apa kita menyesali kejadian yang sudah terjadi di masa lalu, lebih baik kita fokus di masa kini.
2. Ada Hal yang Dapat Kita Kendalikan dan Ada Hal yang Tidak Dapat Kita Kendalikan
Menurut stoisisme. Hal-hal yang dapat kita kendalikan adalah pandangan dan pikiran kita. Sedangkan hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan adalah pikiran orang lain, opini orang lain, tindakan orang lain, bencana alam, kesehatan, kekayaan, kondisi saat kita terlahir, popularitas, dll. Kebahagiaan datang ketika kita sudah tidak terpengaruh dengan hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan. Karena ketika kita menggantungkan harapan kita pada hal-hal yang tidak dapat dikendalikan. Kebahagiaan tersebut dapat kapan saja hilang. Dalam stoisisme hal tersebut tidak rasional. Misalnya saja kita baru deket sama orang baru dan akhirnya pacaran. Kemudian selang beberapa hari, pacar kita itu menghilang entah kemana atau biasanya disebut ghosting. Dari hal tersebut pacar yang hilang entah kemana itu merupakan hal yang berada di luar kendali kita karena itu merupakan tindakan orang lain. Jadi tidak usah dipikirkan berlarut-larut. Yang dapat kita lakukan adalah menerima hal tersebut, move on, dan juga selanjutnya berhati-hati kalau ketemu orang baru.
3. Mengendalikan Pikiran, Pandangan, Persepsi, dan Tindakan Kita
Segala kejadian yang menyebabkan kesedihan, kecemasan, ketakutan kadang berasal dari pandangan dan pikiran kita sendiri. Suatu kejadian dapat dipandang buruk, padahal kenyatannya tidak. Melainkan hal tersebut hanyalah padangan dan pikiran kita saja. Kita harus dapat membedakan kejadian yang terlihat dengan pandangan/pikiran. Contohnya dari ban motor yang mengenai paku tadi. Dari ban motor itu kita menganggap bahwa kejadian itu adalah kejadian yang sial. Menganggap hal itu adalah kejadian yang sial adalah penilaian subjektif dan akhirnya hanya tercipta emosi negatif. Coba kita mengubah pandangan kita terhadap kejadian tadi. Misalnya mungkin sudah saatnya ban motor tersebut diganti, atau kita terpikir untuk beli motor baru. Pandangan tadi bukanlah usaha menghindari dari kenyataan. Kejadian ban motor yang terkena paku merupakan fakta, namun kita memiliki kendali dalam memaknai kejadian itu. Dengan seperti itu, kita dapat terhindar dari emosi-emosi negatif yang membuat sedih, cemas, takut, dan jengkel.
4. Tidak Perlu Membesar-besarkan Masalah
Masalah pasti ada-ada saja. Dari masalah besar dan juga masalah yang kecil. Dalam stoisisme ada cara yang digunakan dalam menghadapi masalah-masalah. Cara tersebut dinamakan Premeditatio Malorum yaitu dengan memikirkan hal-hal negatif yang mungkin terjadi. Dengan membayangkan hal-hal negatif tersebut maka ketika itu terjadi, kita sudah siap menghadapinya. Contohnya ketika kita di rumah dan ingin pergi ke rumah teman. Dari rumah kita membayangkan bahwa ban motor kita akan terkena paku, dan ketika akhirnya itu terjadi. Maka kita tidak kaget dan dapat menemukan solusinya. Ketika kita mendapat masalah kecil, kita dapat menerapkan prinsip ketimun pahit. Ada ketimun pahit dalam makanan, ya buang saja. Sama halnya seperti masalah. Ketika terkena masalah ya lalui saja. Jangan malah kita membesar-besarkan masalah tesebut.Baca Juga : Menarik Lawan Bicara Lewat Kesan Pertama
Demikian artikel tentang Cara Menjalani Hidup dengan Stoisisme. Semoga artikel ini dapat bermanfaat. Semoga dengan kita semua bertambah dewasa, kita dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan hidup yang ada. Tercipta mental yang tangguh dan sikap yang tenang dalam menghadapi permasalahan-permasalahan hidup. Untuk kalian yang ingin mendalami terkait stoisisme, dapat cari artikel-artikel lain. Ataupun dapat membaca buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Karna sekali lagi, artikel ini terinspirasi dari buku tersebut.
Sekian dari saya. Terimakasih telah mengunjungi blog ini dan jangan lupa untuk menbaca artikel-artikel lain dalam blog ini. Serta jika berkenan, mohon untuk follow, like, dan share artikel ini.
4 Komentar
Bagus..bisa memberi pencerahan bagi pembacanya..
BalasHapusTerima kasih telah mengunjungi blog ini, Jika berkenan, boleh share artikel ini ya
Hapusinspiratif sekali.....hidup anti stress ni
BalasHapusTerima kasih bu
Hapus